DETIKPOS.net - Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)... (Al - Baqarah [2]: 185)
Berdasarkan penjelasan ayat diatas diterangkan bahwa pada bulan Ramadan Allah SWT telah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW. Menurut sebagian basar pendapat para ulama dan yang banyak diyakini, bahwa Al Quran diturunkan melalui perantara malaikat Jibril, dan terjadi pada tanggal 17 Ramadan bertempat di gua Hira (Mekkah).
Sedangkan untuk ayat dan surat yang pertama diturunkan-Nya adalah (Qs. Al-‘alaq ayat [96]1-5) yaitu: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Sebagai konsekwensi dari turunnya ayat Al Quran yang pertama tersebut selain merupakan awal diangkatnya Nabi Muhammad SAW sebagai seorang nabi dan rasul yang terakhir (khatam al ambiya wa al mursalin), namun juga tersirat makna yang lebih mendalam (inward meaning) yaitu sebagai tonggak awal kebangkitan sebuah peradaban baru (Islam). Secara fundamental ayat tersebut (Qs. Al-‘Alaq[96] 1-5) mengandung perintah kepada umat manusia untuk membaca.
Perintah membaca dalam konteks ini tidaklah hanya sebatas membaca tulisan, namun dapat juga berarti membaca realitas dan lingkungan yang ada. Sebagaimana dimaklumi dari berbagai keterangan sejarah diterangkan sebelum Nabi Muhammad SAW mengemban risalah baru sebagai nabi dan rasul yang terakhir (baca sebelum turunnya Al-Quran), bahwa ia harus berhadapan dengan masyarakat Arab (Mekkah) yang notabene mengalami degradasi akhlak, sehingga predikat yang diberikan selalu identik dengan masyarakat jahiliyah.
Namun, tidaklah berarti semua yang ada pada masyarakat tersebut tidak ada hal-hal yang positif dan sangat berarti, terutama di dalam budaya dan tradisi yang penuh dengan nilai-nilai sosial - kultural. Sehingga dengan demikian akhirnya nanti ada beberapa nilai-nilai sosial maupun kultural yang ada di masyarakat Arab diadopsi sebagai ajaran Islam setelah diluruskan dan diperbaiki sesuai dengan nilai-nilai ajaran Al Quran.
Sebagaimana diungkapkan Philip K. Hitti dalam History of The Arabs, nilai-nilai sosial maupun kultural yang ada pada masyarakat Arab adalah; Pertama komunisme primitif, suatu sistem atau nilai sangat berharga didalam interaksi sosial adalah rasa kebersamaan didalam lingkungan kesukuan yang sangat tinggi.
Meskipun diterangkan dalam sejarah bahwa didalam tata pergaulan sosial dikenal sebagai orang yang keras dan kejam pada musuhnya, akan tetapi orang Arab merupakan sahabat yang setia dan pemurah. Saking kuatnya ikatan keluarga dan kekerabatan suku, bagi orang Arab tidak ada musibah paling hebat dan paling menyakitkan selain putus keanggotaan dengan sukunya.
Hal seperti itu digambarkan upaya untuk menumbuhkan kepentingan bersama untuk menjalankan satu tugas suci, misalnya bersikap ramah dalam menyambut tamu. Tidak ramah terhadap tamu atau menganggunya merupakan bentuk pelanggaran terhadap norma dan kehormatan sosial, tetapi juga penghinaan kepada Tuhan itu sendiri.
Kedua Feodalisme, yaitu adanya sistem sosial yang berlaku di masyarakat dengan pembagian umat manusia dalam beberapa kelas atau kasta. Kemudian ada suatu hal yang perlu disikapi bahwa orang Arab secara umum dan orang Badui secara khusus terlahir sebagai seorang demokrat. Apabila ia berhadapan dengan syaikh dalam kedudukan yang setara, gelar raja (malik) tidak pernah digunakan oleh orang-orang Arab kecuali ketika merujuk pada penguasa asing. Selain demokratis orang Arab juga berwatak aristocrat, yang memandang dirinya sebagai perwujudan dari pola penciptaan unggulan.
Baginya bangsa Arab bangsa terbaik (afkar al umam), kemuliaan keturunan (nasab) merupakan kebanggaan utama orang Arab. Setiap orang sangat membanggakan garis keturunan yang luar biasa, dan saling menyambungkan garis keturunannya itu hingga Nabi Adam. Dengan adanya klaim yang demikian menjadikan bangsa Arab sebagai bangsa yang paling mulia dan sebagai keturunan yang luar biasa dampaknya adalah orang diluar Arab sebagai kelas dua, yang akhirnya muncul sistem perbudakan.
Al- Quran dalam hal ini memberikan respon yang terkait dengan nilai sosial dan kultural pada masyarakat Arab (Mekkah) tersebut, yaitu dari masyarakat yang bersifat komunisme primitive dan feodalisme menjadi masyarakat modern yang lebih egalitarian.
Al Quran memberikan dan menunjukkan komitmen yang tinggi pada harkat dan martabat manusia tanpa membedakan kelas sosial yang mungkin terjadi ditengah-tengah masyarakat agar tidak memandang adanya perbedaan karena disebabkan: jenis kelamin, bangsa dan kesukuan (ras), tetapi perbedaan tersebut adalah untuk saling kenal mengenal (ta’aruf) antara satu dengan lainnya. Begitu pula diantara manusia hanya dapat dibedakan berdasarkan kualitas pribadi atau tingkat ketakwaan (Qs. Al-Hujarat[49]: 13).
Kualitas pribadi itu dapat berupa ketinggian moral, kecerdasan intelektual, atau dapat juga berbentuk kemurahan hati untuk beramal saleh kepada sesama umat manusia. Dalam hal ini penghargaan kepada seseorang bukan karena faktor askriptif, akan tetapi karena prestasi yang dimiliki.
Mungkin inilah yang pernah dikatakan Dawan Rahardjo bahwa Islam (Al Quran) bukan hanya hanya sekedar memperlihatkan bahwa Islam dalam konteks modernisasi sekarang dapat diinterpretasikan dan diformulasikan kembali sebagai ajaran yang mengandung nilai-nilai yang mendukung modernisasi. Namun lebih dari itu, ia ingin menunjukkan bahwa Islam pada dirinya sendiri, secara inheren dan aslinya adalah agama yang “selalu modern”.
Karena itu, Al Quran juga secara substansial mengajak umat manusia mempelajari dan mendalami ilmu pengetahuan dan teknologi untuk merancang masa depannya, dengan harapan mampu merespon dinamika perubahan sosial dimana dan kapanpun juga. Selanjutnya pada sisi yang lain Al Quran juga menerangkan dan memberikan penghargaan dengan mengangkat derajat dan kedudukan manusia yang lebih tinggi dari manusia lainnya, apabila orang tersebut berilmu pengetahuan (Qs. Al-Mujadilah(58): 11).
Orang yang dikatakan sebagai berilmu pengetahuan adalah bagi orang-orang yang senantiasa berpikir kritis, kreatif dalam meneliti dan menelaah kejadian alam berserta seisinya (Qs. Al-Ghasiyah [88]: 17-20). Artinya, dengan demikian Al Quran dalam hal ini memperkenalkan dirinya sebagai kitab suci yang berfungsi untuk melakukan perubahan positif, yaitu mengeluarkan manusia dari alam yang gelap gulita menuju kepada cahaya yang cemerlang (Qs. Ibrahim [14] : 1).
Akhirnya, melalui momen Nuzulul Qur’an yang sangat besar dan berharga ini menjadi harapan bersama, mudah-mudahan menjadi motivasi untuk lebih memperdalam, mempelajari, menelaah, dan meneliti ajaran yang terkandung di dalam Al Quran dari berbagai aspek disiplin keilmuan. Kemudian selanjutnya kita jadikan sebagai tonggak awal dalam membangun sebuah peradaban yang baru, sehingga dengan sendirinya Islam benar-benar sebagai rahmatan lil ‘alamin. Semoga.
Oleh : Kaspullah**Penulis, Guru SMPN 5 Sambas dan Dosen STAI Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas. [
ppo/ris]
Blog Berita Hari Ini Indonesia Terkini